Rabu, 22 April 2020

WEBINAR RASA KULIAH SEJARAH (WFH BERFAEDAH)


Poster diskusi/ webinar menyambut Hari Kartini
sumber: Salam UI 


Halooo udah lama bangett gak mengisi blog dengan beragam hal.
Yapp karena situasi selama 6 minggu ini work from home,, jadilahh selama 6 minggu ini berada di rumah terus (boong denggg ada perjalanan pergi pulang kosan-rumah)

Dikarenakan tidak banyaknya pekerjaan kantor (yang kadang ada kadang engga) jadi banyak waktu luang buat beragam hal, di antaranya: masak-masak, baca novel, nonton drama korea, ikut webinar, belanja online, bikin video semangat menghadapi covid ama geng sejarah, dan nulis-nulis random kaya gini.

Nahh mau share salah satu kegiatan yang dilakukan pas lagi masa WFH, yaitu ikut webinar yang diadain sama Salam UI pada peringatan Hari Kartini dengan Judul Kartini Dalam Perspektif Sejarah

Adapun pembahas dari materi ini adalah dosen sejarah gue, jadii tertariklahh untuk mengikuti ini,,, yaaa ampunnn sudah lama gak kuliahh, anggap aja ini kuliah jarak jauh, hehe😍

Dannn gak kecewa sihh pas ikut, feel nya tuh kerasa bangetttt, mas maman kek lagi ngajar di kelas, haha, kek matkul “Pemikiran Politik Islam Indonesia” 😂

Kegiatan webinar ini berlangsung dari pukul 19.30 WIB- 21.30 WIB, kannnnn kek kuliah, 2 jammmm 
Sebenarnya, webinarnya gue rekam via screen video, ehh karena audio peserta dimute sama panitia, otomatis itu rekaman gak ada suaranya (iya gak sih),, sedihh bangetttt pen mewekk😭 Astagfirullahhh---- sabarrr
Kalo gini kann gue jadi lupa isi materinya apa (karena pas lagi jelasin, gue sambi beres2 jadi gak konsen) tapi sepintas ada yang keinget, sisanya (banyak) lupa, wkwkkw

hal yang gue inget adalah bagian sesi tanya jawab karena cukup merhatiin. Berikut beberapa informasi yang bakal gue share (kalo ada yang salah bisa komen yaa)..


------------------------------------------------------------------------------------------------ 

1. Mas Maman kek biasa cucok meong dah jelasinnya apalagi tadi nyangkutin ke masalah agama dan emansipasi.
Pertanyaannya kalo gak salah seputar, Kartini dan feminisme saat ini
Yapp jawabannya gak jauh dari konteks zaman yang harus dilihat, jangan menyamakan emansipasi yang dimaksud kartini dengan emansipasi yang diperjuangkan para feminis saat ini
Kata Mas Maman, kurang tepat mengaitkan feminisme dengan kartini, tapi yang diperjuangkan adalah emansipasi, persamaan hak,
Tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri, tapi juga mendapat kesempatan yang sama seperti kaum lelaki, seperti menyangkut masalah pendidikan.

2. Kartini pernah mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan ke Belanda, akan tetapi niatan itu tidak jadi terlaksana karena Kartini harus menikah (kalo gak salah ya). 
Pertanyaannya, kenapa sih Kartini ko kaga nekat aja ke Belandaaa, ancem aja sihh bapaknya kalo gak di ke belandain gak mau nikah. 
Ehhh kata Mas Maman yang didasarkan atas sumber bacaannya “Kartini itu marah sekali sama bapaknya, tapi rasa sayangnya lebih besar terhadap bapaknya, konteks rasa berbakti seorang anak terhadap orang tua”
(seketika inget bapak gue di rumah,,, yang biasanya gue suka nekat2 aja, bodo amat pengen masuk UI meski bokap udah larang)

3. Terus tadi nanya apakah Kartini berkirim surat juga sama perempuan pribumi dizamannya untuk curhat terkait pemikirannya?
Mas maman sih belum menemukan sumber/ membaca buku yang menyatakan hal tersebut. 

4. Kenapa sih Kartini dijadikan pahlawan sama Soekarno?
Melihat dari konteks pemikirannya, selain itu memang sedang digalakan mengadakan peringatan hari hari besar.
Banyak diprotes sebenarnya kenapa gak disatuin aja sama hari ibu pada 22 Desember, tapi karena sudah jadi keputusan presiden tidak bisa diubah oleh presiden selanjutnya.

5. Apakah benar dia pernah berkirim surat ke Snouck Hugronje? 
Sebenaranya dia tidak pernah bertemu Snouck secara langsung, surat yang ia kirim tidak langsung ke Snouck, tetapi menitip pada istri Abendanon,
 Konteks dia bisa berhubungna dengan orang barat, bukanlah orang-orang barat yang ada di luar Hindia Belanda karena konteksnya pada saat itu adalah dia berhubungan dengan istri2 pejabat yang bertugas di Jawa dan kartini adalah anak bangsawan. Jadi dia memiliki akses untuk dapat berhubunngan dengan orang2 tersebut. Selain itu perlu dicari juga, di mana sebenarnya Kartini bertemu dengan istri Abendanon? Apakah saat ia sedang sekolah di sekolah kejuruan atau di saat apa

6. Penerbitan surat2 Kartinipun sebenarnya di latarbelakangi oleh konteks politik kolonial Karena HJ Abendanon adalah salah satu Menteri Jajahan Belanda di Hindia Belanda. Otomatis surat-surat yang dibukukan adalah yang memiliki kepentingan terhadap kolonial

7. Kartini belajar Islam itu sebentar dan meninggal pada tahun 1902/4, awalnya ia mengagung2kan wanita barat yang serba bisa untuk melakukan apapun, tetapi ketika dia mempelajari Islam, dia mulai mengubah pandangannya,
Awalnya tidak setuju dengan poligami, tapi karena melihat dan mempelajari bahwa poligami itu ada dalam agama Islam maka pemikirannya berubah dan lebih menyesuaikan.

8. Konteks yang menyatakan bahwa Kyai Soleh menerjemahkan Al-Quran karena Kartini itu perlu dikaji lagi, terutama Kartini belajar agama Islam ke Kyai Soleh, mereka bertemu hanya sekali.
Kyai Soleh menerjemahkan Al-Quran ke bahasa jawa sebelum bertemu Kartini, dan mereka bertemu hanya sekali di Demak
Kyai soleh memberikan hadiah quran terjemahan tersebut untuk pernikahannya





Dahh gitu aja yang bisa disampaikan (peretanyaannya banyak dan jawabannya Mas Maman mantap sih, tapi yang nyampe di otak gue sebatas itu aja😓),,, semoga ada manfaatnyaa, lebih baik kata Mas Maman kalo mau mengetahui tentang Kartini adalah membaca buku ttg. beliau dan membaca surat-suratnya, gak bisa hanya saekali ikut webinar atau baca satu buku kita bakal paham, kalo mau lebih afdol lagi ya baca arsipnya jugaa, hehe

Happy work from home, study from home, and happyyy from homeee💖💖💖

Senin, 11 Februari 2019

Women in Elite Pools and Elite Positions


Well, ini adalah tugas akhir dari mata kuliah Kapita Selekta, yaitu mereview jurnal tentang golongan Elite.
Apa itu elite? tentunya kita sudah tidak asing dengan kata tersebut. Elite sendiri berasal dari bahasa Prancis elite yang dalam bahasa inggris setara dengan chose ----> pilihan, terpilih. Awalnya digunakan untuk barang, akan tetapi mengalami perkembangan dan perluasan makna sehingga disematkan untuk manusia (kurang lebih kek gitulah, wkwk)

Kenapa dari sebagian banyak jurnal tentang elite, milih jurnal ini? dulu sih jawabnya gini,,,,
Alasan:
Sebuah jurnal yang membahas akan sosok perempuan dalam kelompok-kelompok elite dan posisi-posisi elite di Amerika Serikat (United State of America) ini dipilih sebagai tugas paper karena memiliki daya tarik dalam segi wilayah, yaitu di negara Amerika Serikat, di mana paham kebebasan (liberalisme) dijunjung tinggi, dan dengan adanya aspek kebebasan dalam sendi kehidupan masyarakat Amerika tersebut apakah memberikan ruang pada perempuan untuk dapat duduk dalam posisi-posisi di tingkat atas, baik di pemerintahan, pendidikan, maupun perusahaan. Perempuan yang biasanya diidentikan berada pada posisi kedua setelah laki-laki apakah memiliki akses yang cukup untuk dapat masuk dalam jajaran kelompok elite dan dengan semakin majunya pendidikan dalam kaum perempuan apakah dapat membawa perempuan untuk menduduki posisi elite yang setara dengan laki-laki.
Isi :
Sejak seperempat abad Undang-Undang Hak Sipil (Civil Right Act) berlalu, jumlah perempuan dalam jabatan-jabatan dan program gelar profesional telah meningkat dan berkembang ke tingkat yang belum pernah tercapai. Perempuan menjadi semakin terintegrasi ke dalam arena ekonomi dan politik di Amerika Serikat.
Posisi elite di kantor pembuat kebijakan dan administrasi tingkat atas dalam lembaga-lembaga ekonomi dan politik  banyak dijabat oleh laki-laki, sedangkan perempuan menunjukan keterwakilan yang tidak mencapai lebih dari 10 persen dalam posisi elite. Sebuah survei yang dilakukan oleh Heidrick and Struggles menemukan bahwa wanita mewakili sekitar 5 persen dari kursi direktur di perusahaan besar pada tahun 1987, 5 persen dari akuntan tingkat atas, 9 persen dari pengacara tingkat atas, dan 7 persen dari tingkat atas direktur personil
Pada tingkat pemerintahanpun perempuan mengalami hal yang sama, di mana pada tingkat federal tidak ada wanita yang pernah menjabat sebagai presiden atau wakil presiden, dan hanya satu yang dinominasikan untuk menjadi presiden dari partai politik besar. Rata-rata hanya 1 dari 13 posisi kabinet dipegang oleh seorang wanita. Dalam cabang legislatif perempuan memegang 5 persen kursi di DPR dan 2 persen kursi Senat. Proporsi yang sesuai pada tahun 1961 adalah 4 persen dan 2 persen, yang menunjukkan sedikit peningkatan peran perempuan dari posisi ini dari waktu ke waktu. Dalam cabang yudisial hanya 1 dari 104 posisi hakim Mahkamah Agung yang dijabat seorang wanita. Di tingkat negara bagian dan lokal perempuan memegang 3 dari 50 gubernur dan 11 persen dari posisi walikota. Perempuan juga memegang sekitar 16 persen kursi legislatif negara. Kenaikan jumlah perempuan di posisi elit di tingkat negara bagian dan lokal telah melampaui jumlah ditingkat federal. Sedangkan dalam akademisi sebuah survei pada tahun 1983 dari dekan akademik menemukan bahwa sekitar 22 persen dari posisi yang dipegang oleh perempuan.
Keterwakilan dan peningkatan perempuan  dalam posisi dan kelompok elite ini tentu ikut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat pendidikan atau pengalaman dalam pekerjaan tertentu, ahli waris atau bahkan dari karakteristik demografi. Pendidikan yang diraih oleh perempuan dapat menjadi suatu peluang besar dalam masuk ke posisi elit tertentu, karena sepanjang tahun 1949/1950 hingga 2010 terjadi peningkatan pendidikan perempuan dalam berbagai jenjang, baik sarjana, master maupun doctor, dari bidang hukum maupun bisnis. Selain itu, Perempuan memiliki distribusi yang sama dari pekerjaan, pendidikan, atau keanggotaan yang bersifat sukarela dengan laki-laki, sehingga proporsi kursi legislatif yang dipegang oleh perempuan sekitar 23 persen di lembaga tinggi dan 29 persen di lembaga yang lebih rendah. Dengan adanya kualifikasi yang sama ini, jumlah permpuan dalam sebuah elite akan meningkatkan keterwakilan perempuan di legislatif negara dalam menduduki posisi elite, meskipun laki-laki masih akan mendominasi dan cenderung memiliki keuntungan yang signifikan dalam pemilu negara.
Meskipun pendidikan menjadi suatu syarat dalam masuk kelompok elite, terdapat kelompok pekerja  yang berpotensial uantuk dapat menduduki posisi elite yaitu militer, jabatan manager, akademisi, pengacara dan hakim serta akuntan. Di mana peran dan proporsi perempuan dalam lima pekerjaan ini mengalami peningkatan  dalam angkatan kerja dari tahun ke tahun, meskipun pada bidang militer tidak mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Perempuan saat ini mewakili lebih dari 44 persen dari tenaga kerja. Namun, hal ini tidak berarti bahwa wanita akan mewakili lebih dari 44 persen dari posisi elite. Sehingga keterlibatan perempuan dalam Mature Elite Pools dapat meningkatkan status elite perempuan sebagai prediksi dalam keterwakilan perempuan di dalam posisi elite.
Dengan adanya peningkatan perempuan dalam lembaga-lembaga elit dan juga perannya dalam posisi elite dapat memberikan sebuah korelasi yang kuat antara andil perempuan dalam anggota kelompok elite dan andil mereka di posisi elite di kelompok elite pendidikan, sektor privat dan juga pemerintahan yang dapat dipergunakan untuk meramalkan apa yang terjadi pada status perempuan dimasa mendatang
Kesimpulan
Meskipun jaman telah berubah dan paham kebebasan merebak dalam segala bidang kehidupan, namun wanita masih menempati peringkat kedua dalam kelompok-kelompok elite, baik di pemerintahan, perusahaan dan pendidikan. Hal ini tidak hanya terjadi di Amerika, tetapi juga terjadi di Indoneisa, di mana perempuan masih jarang menempati posisi-posisi elite dalam jumlah yang lebih besar dari laki-laki,. Meskipun demikian, sejak bergulirnya emansispasi wanita di Indoneisa, peran perempuan pun mulai diperhitungkan dalam kalangan elite dan posisi elite. Keterwakilan perempuan dalam kelompok-kelompok elite dan posisi-posisi elite mulai mengalami kenaikan dan kemajuan juga layaknya di Amerika, dapat kita lihat dalam bidang pemerintahan, yaitu jajaran menteri-menteri, terdapat keterwakilan perempuan seperti Susi, Puan, dan yang lainnya, posisi walikota Surabaya, Risma, bahkan di Indoneisa perempuan pernah menjabat posisi tertinggi dalam pemerintahan, yaitu posisi Presiden Republik Indonesia, yang dijabat oleh Megawati Soekarnoputri. Tidak hanya dalam jabatan di pemerintahan, perempuan di Indonesia masuk pula dalam jajaran elite pendidikan di universitas, seperti di Universitas Indoneisa, beberapa dekan fakultasnya adalah perempuan, yaitu dekan FK, Fasilkom, FIK, FKM dan FPsiko.
Keberlangsungan perempuan Indonesia dalam menjabat di posisi elite dan kelompok elite diharapakan dapat meningkat seiring peningkatan pendidikan yang telah dicapai.

Minggu, 03 Juni 2018

NATHANIEL'S NUTMEG (A book review)





Bagi seorang mahasiswa sejarah, membaca buku ini mampu menambah cakrawala yang sangat baik mengenai hubungan dagang orang-orang Eropa di Nusantara, terutama sekali bagi kerajaan Inggris dan Belanda dimasa itu. Dilihat dari judulnya, Nathaniel's Nutmeg, sudah jelas buku ini englensentris ya. Kenapa? karena Nathaniel Courthope ini adalah salah seorang kepala dagang Inggris yang diutus EIC untuk pergi ke Nusantara dan mendapatkan kerjasama dengan masyarakat pribumi mengenai jual beli rempah.(alasan yang ga nyambung,, wkwkwk, intinya ini bahannya emang banyak dari sisi inggris sih tapi ceritanya netral ga sentris-sentrisan insaAllah)

Berdasarkan 'testimoni' Andrew Roberts dari The Wall Street Journal, ia menyatakan "New York akan memakai bahasa Belanda hingga hari ini, bukan bahasa Inggris, jika peristiwa dalam buku ini tidak terjadi". 
Yap bila disimak dari pernyataan Andrew tersebut, kita dapat dengan gamblang menyatakan telah terjadi peristiwa yang cukup hebat dimasa lalu yang berkenaan dengan New York, dan tentu saja berkenaan juga dengan salah satu pulau di Nusantara, atau Indonesia saat ini. Pulau yang mana? yaitu sebuah pulau yang mungkin kita tidak pernah tahu dan lihat di peta-peta Indonesia yang begitu banyak pulaunya, karena pulau ini sangat kecil dan tidak ada lagi "gaungnya" di Indonesia saat ini. Pulau apakah itu? yapp Pulau Run, salah satu pulau di kepulauan Banda yang pada masa Elizabeth I di sinilah Pala tumbuh...

Cekidottt kita review buku ini dari awal sampai beres yaa, sampaii gimana itu pernyataan Andrew bisa gitu,,, dan kalo baca buku ini harus ekstra sabar pas baca bab-bab akhir karenaaaa,,,,, gereget banget sama Belanda,,,, sumpah dahhhhhh kalo berdasarkan bahasa Iran mah (meski artinya ga sekasar di Indonesia) orang Belanda di buku ini tuhh ---Biadab!




Pada bagian awalnya, buku ini menceritakan bagaimana bangsa-bangsa Eropa, terutama, Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda (yang lebih dominan dibahas) mencari rute pelayaran ke gudang rempah di wilayah timur. Nahh untuk menuju ke sana, sudah tergambarlah yaa kalo mereka harus menyusuri pantai Afrika, terus ke India terus masuk ke wilayah Nusantara, dari mulai Aceh, Banten, dan ke Maluku.

Perjalanan dari Eropa ke Nusantara digambarkan dengan cukup baik di sini, perjalanan yang tidak mulus, banyak hambatan, baik itu dari segi internal maupun eksternal. Dari segi internal misalnya, hambatan datang karena awak kapal yang mulai kena berbagai penyakit, persediaan makanan yang mulai menipis karena kelamaan di laut ga nemu-nemu pulau, masalah air bersih sampai masalah pemberontakan, campur aduk dehh,, Adapun masalah ekstenal adalah faktor cuaca di lautan, biasalah ada badai yang membuat mereka akhirnya terombang ambing, atau bahkan kapalnya karam, tidak hanya itu, mereka yang singgah di suatu wilayah juga kadang mendapat masalah yang menyebabkan mereka menunda perjalanan laut kembali, (ada cerita ini di bagian bab-bab akhir ketika orang Inggris di wilayah Arab/Timur Tengah), dan tentu saja perompakan oleh bangsa Eropa lain karena mereka saling bersaing dan gak suka kalo saingannya akan melakukan hal yang sama dengan mereka. 

Satu hal yang baru ku ketahui dari perjalanan orang-orang Eropa ke Nusantara adalah mereka ternyata mencoba menggunakan jalur utara (yaitu ke wilayah dekat Rusia/kutub) untuk sampai di wilayah timur, tujuannya ada dua yang dapat kutangkap, yaitu menghindari bertemu saingan di jalur yang biasa digunakan serta untuk mempersingkat waktu tempuh (pada saat itu banyak tersiar kabar bahwa lewat utara dapat lebih cepat, asal pergi pas musim yang tepat, di mana es belum banyak membeku). Penceritaan mengenai jalur utara yang menantang es dan salju ini bikin geregeettt juga nih, karena para petualan yang dikirim ke sini udah pada gagal nyari rute yang bisa anterin mereka ke wilayah tropiss Nusantara, tapi rumor yang beredar akan jalur utara tak pernah membuat pedagang Belanda maupun Inggris untuk menyerah dan  terus mencoba meski pada akhirnya hasilnya sama aja—Gagal!.



Nah di salah satu pelayaran EIC ke utara, ada tuh kapten kapalnya malah keluar rute yang ditetapkan oleh kongsi, sebut saja namanya Hudson. Hudson ini menyusuri wilayah yang sebelumnya pernah dilalui tapi karena gak beres akhirnya dilanjut lagi pas dapat dana dari kongsi dagang Inggris. Perjalanan Hudson ini mengantarkan dia ke wilayah Indian yang dia bilang "sangat indah di mana  pangan dan hal-hal yang di Eropa mahal dan sulit di dapat, di sini melimpah". Pada saat dia ke sini, orang-orang Indian menyambut mereka (karena orang Indian percaya mereka berasal dari langit, kek dewa mereka gitu) Hudson memberikan mereka minuman sejenis alkohol gitu buat ucapan,, dan orang indian ini pada mabuk, peristiwa itu dalam bahasa Indian disebut mannahata (tempat orang mabuk apa ya kalo salah) yang diperkirakan dari peristiwa itulah nama Manhattan muncul. Tapi meski sudah barter dan ke wilayah itu, orang-orang  Inggris ini gak nempatin atau klaim wilayah ini. Cuma datang, tau tempat ini bagus dan pulang (cerita singkatnya kek gitulah). Yang kemudian ketika orang-orang Belanda datang, mereka langsung mendirikan koloni di wilayah ini dan menamainya dengan New Netherland/New Amsterdam.



Berlanjut ke pelayaran-pelayaran orang-orang Inggris dan Belanda lewat rute biasa lagii,,, pada saat itu, EIC mengirim armada ke sekiannya dengan kepala dagang bernama Nathaniel Courthope untuk menjalin kerjasama dengan penguasa pribumi soal perdagangan rempah/pala. Nathaniel juga diharuskan menjaga wilayah yang akan dikerjasamainya itu. Maka berangkatlah ia ke Nusantara, terutama ke wilayah Run. Kenapa ke Run? karena wilayah-wilayah lain di Banda udah mayoritas dikuasai oleh Belanda, secara mereka terus saingan di mana-mana. Maka ketika Nathaniel sampai di Run, para penguasa pribumi di situ dengan senang hati mau bekerjasama dengan Inggris, secara mereka udah benci banget sama Belanda yang seenaknya. Dalam hal ini, keinginan pribumi kerjasama dengan Inggris dapat terlihat dari pernyataan berikut :

"Dan sementara Raja James dengan kasih Tuhan adalah Raja Inggris, Skotlandia, Prancis, dan Irlandia, kini juga adalah dengan rahmat Allah, Raja Pooloway (Ai) dan Pooloroone (Run)"
Para penguasa di wilayah tersebut mau bekerjasama dengan Inggris jika mereka juga menghormati agama pribumi sebagai syarat.
"bahwa kami benar-benar memohon kepada Yang Mulia hal-hal yang tidak sesuai dengan agama kami, seperti perlakuan tidak hormat pada perempuan, memelihara babi, mengambil paksa barang-barang milik orang, menyalahgunakan orang-orang kami, atau hal-hal seperti itu….. tidak dipraktikan, di luar kebiasaan dan tradisi kami”

setelah kedua pihak saling bersepakat, Nathaniel bener-bener menjaga pulau tersebut, ia menempatkan meriam-meriam kapalnya di pulau tersebut, dan ketika oleh Belanda diminta untuk pergi dari Run dan menyerahkan pulau tersebut, dengan berani dan setia pada raja, Nathaniel menjawab “ Aku tidak bisa, kecuali aku akan menjadi pengkhianat bagi Raja dan negeriku, menyerahkan hak yang aku bisa jaga; dan juga mengkhianati rakyat negaraku, yang telah menyerahkan tanah mereka untuk Yang Mulia Raja”.

Akan tetapi, dalam perjalanannya, pulau Run mampu direbut dan diklaim oleh Belanda, dan Nathaniel meninggal saat ia berusaha mempertahankannya dan bawahan Nathaniel nasibnya gak beda jauh. Insiden perang-perangan di Nusantara tersebut memang tidak terjadi di Eropa sana, EIC dan VOC membicarakan masalah mengenai Run dan wilayah-wilayah di Nusantara lewat diplomasi, ketika disepakati perdamaian antara dua kerajaan tersebut dengan penggantian biaya dan sebagainya, akhirnya mereka “hidup damai” di Nusantara, terutama di wilayah Banda. Masalah kembali muncul dan ini sangat menentukan akan masa depan dua wilayah di Nusantara dan di Amerika, yaitu Pembantaian Ambon.


Insiden Pembantaian Ambon terjadi ketika orang-orang Jepang (yang biasanya jadi tentara bayaran) nanya-nanya tentang pertahanan benteng Belanda,, eh gegara tanya-tanya ini imbasnya mereka dicurigai Belanda akan melakukan penyerangan dan itu dicurigai didalangi oleh orang – orang Inggris. Orang -orang Jepang tersbut dipakasa ngaku, mereka bilangnya Cuma nanya aja, tapi karena terus-terusan disiksa sama Belanda akhirnya merka bilang karlo merka dibayar oleh orang Inggris untuk melakukan konspirasi nyerang Belanda. Nahh mendapat jawaban yang dimau oleh BELanda itu, akhirnya orang-orang Inggris yang ada di eilayah Banda pada dipanggilin dan pada akhirnya disiksa untuk ngaku bahwa mereka melakukan kosnoirasi. Satu persatu ditanya, meskipun dijawab ga tau dan gak ada itu masalah konspirasi, Belanda tetap menyiksa mereka sampai ngaku. Mau gak mau orang-orang Inggris itu pada ngaku hal yang gak mereka lakukan. Bentuk penyiksaannya dengan api dan air. Mereka disiksa sedemikian rupa tanpa proses peradilan yang baik. Hanya dua orang dari orang-orang yang dipanggil BeLanda yang diberikan hak hidup pada saat itu. Ketika 2 orang itu balik ke Inggris dan menceritakan kekejaman Belanda pada orang-orang Inggris dan kongsi, mulai tuh orang-orang Inggris protes dan mengecam Belanda. Parlemen juga akhirnya melakukan diplomasi pada kerajaan Belanda, nuntut ganti rugi, terutama pengusaan Run yang seenaknya aja dulu. Tapi apa yang mereka dapatkan dari Belanda? Nothing, duhh Belanda gak mau ganti rugi dan mengabaikan tuntutan Inggris. Raja Inggrisnya, Raja Charles juga di sini tidak terlalu tegas, ketika Raja tersbut kemudain beganti menjadi Raja Charles II, tetap saja belum ada titik terang antara pertikaian Belanda dan Inggris

Belanda yang tidak ingin Inggris menguasai Pulau Run akhirnya melakukan “pembersihan besar-besaran dan peghancuran di pulau tersebut” rumpun pala ditebang dan tumbuh-tumbuhan dibakar hingga ke akarnya. Run telah menjadi karang yang tandus dan tidak ramah.
Taktik Belanda yang sewenang-wenang tersebut gagal membangkitkan kemarahan Raja Charles II, tapi sukses membuat saudara laki-laki raja, James, Duke of York, marah besar. Dia bertekad untuk membalas ketidakadilan tersebut. Pada 1663, James mempersiapkan empat kapal untuk berlayar ke pantai Afrika dan merebut pos-pos perdangangan Cape Corso milik Belanda di Gold Coast dan berhasil. Kemudian memerintahkan kapal-kapalnya mengarungi Atlantik dan merebut New Netherland yang dikuasai Belanda. “Sudah saatnya untuk mengeluarkan mereka dari kapasitas melakukan kejahatan yang sama di sini” komisi kerajaan menyatakan.

Ketika menyerang Manhattan, James mendapatkan keuntungan karena lawannya di sini tidaklah memiliki kesiapan militer yang tinggi dan dengan tawaran penyerahan yang terhormat, Gubernur New Amsterdam dengan enggan setuju. Pada Senin, 8 September 1664, dia menyerahkan hak Belanda atas Manhattan. Raja Charles II sangat gembira dengan kabar tersebut. “Ini adalah tempat yang sangat penting…kami telah mendapat yagn lebih baik daripada itu dan sekarang kota ini bernama New York”. Belanda memprotes keras, menyatakan bahwa Inggris telah merebut pulau itu “bahkan tanpa naungan hak di dunia”. Raja Charles mengabaikan protes tersebut, bagaimanapun Belanda melakukan agresi serupa ketika mereka merbut Run, sebuah pulau yang mereka tidak punya hak ketimbang Manhattan.

Dengan tidak adanya resolusi yang terlihat, akhirnya Inggris dan Belanda kembali perang dan itu berlarut-larut. Akhirnya disepakati pada Maret 1667 bahwa kedua pihak harus bertemu untuk merundingkan keluhan-keluhan mereka. Tempat pertemuan tersebut adalah wilayah Breda. Perundingan tersebut tidak jauh dari seputar tuntutan kompensasi Inggris terhadap kekejaman Belanda dan juga pengembalian segera Pulau Run. Sementara Belanda mengeluhkanperompakan Inggris dan pengembalian Manhattan, akan tetapi tidak mau mengmbalikan Run karena merupakan fondasi utama dari keuntungan dan kekuatan Belanda di Hindia Timur. Akhirnya dalam perundingan tersebut komisioner perdamaian mengusulkan satu-satunya solusi yang tersisa, bahwa sebagai imbalan Belanda menguasai Run, Inggris harus dizinkan  menguasai Manhattan.

Di siniiiii,, dipoint ini sebenarnya perwakilan Inggris di perundingan masih takut untuk setuju karena Run bagaimanapun adalah aset terkaya mereka. Para perwakilan tersebut akhirnya mengirin surat ke London untuk meminta nasihat. Pada 18 April 1667 sebuah surat datang dengan instruksi sederhana “ kami MENYETUJUI”. Kesepatakan akhirnya dicapai. New Amstedam benar-benar menjadi New York.


Pada akhirnya meskipun di buku ini terlihat Inggris menderita kekalahan yang banyak dibanding Belanda dalam perebutan Pulau Run, dan Inggris kehilangan pulau Palanya di Hindia, tapi sesungguhnya Inggris menyulut “kematian ekonomi” di Kepulauan Banda. Sebelum benar-benar angkat kaki dari Banda, pada abad ke-19, Inggris mencabuti ratusan bibit pohon pala dengan beberapa ton tanah setempat dan mengirimnya ke Sri Langka, Penang, dan Singapura. Dalam beberapa dekade, perkebunan baru tersebut berkembang dan jauh melampaui produksi di Kepulauan Banda.



Senin, 05 Maret 2018

SMONG : Kearifan Lokal masyarakat Simeule yang menyelamatkan



Terjangan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 mampu meluluhlantahkan hampir sebagian wilayah pesisir Aceh. Akan tetapi, dalam tragedi yang memilukan tersebut terdapat sebuah keajaiban yang terjadi di Pulau yang bernama Simeule. Ketika terjangan tsunami mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa dan juga luka, hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Pulau Simeule. Padahal berdasarkan letak geografis pulau ini berbatasan dengan Samudra hindia di semua arah. Sebelah barat : berbatasan dengan Samudera Hindia,  Sebelah utara : berbatasan dengan Samudera Hindia, Sebelah timur : berbatasan dengan Samudera Hindia, Sebelah selatan : berbatasan dengan Samudera Hindia.

Perhatikan peta berikut :
Provinsi Aceh


Pulau Simeule

Berdasarkan perkiraan jumlah korban tsunami tersebut, sekitar 160.000an orang dinyatakan tewas dalam bencana tersebut, sementara di wilayah Simeule yang tentu saja ‘lebih dekat’ dengan sumber gempa, jumlah korban dari terjangan tsunami tidak begitu besar, yaitu berjumlah 7 orang.

Bagaimana bisa suatu wilayah yang sekiranya lebih dekat dengan sumber bencana memiliki jumlah korban yang berbeda jauh dengan jumlah korban di daratan besar Sumatera? Salah satu jawabannya selain karena kehendak Yang Maha Kuasa, di masyarakat Simeule terdapat sebuah kearifan lokal yang mampu menjadi sebuah peringatan dini dalam mengantisipasi bencana tsunami yang datang. Kearifan lokal tersebut merupakan suatu bentuk pembelajaran sejarah yang pernah di alami oleh msyarakat Simeule pada masa lalu, apakah itu? Dan bentuk kearifan lokal seperti apa yang mampu menjadi peringatan dini tersebut?

Yappp,,, jika merunut ke peristiwa masa lalu, tepatnya pada tahun 1907, terjadi peristiwa gelombang besar yang menghantam pulau Simeule dan menyebebkan jumlah korban jiwa yang diperkirakan cukup banyak. Pada saat itu, sebelum terjadi gelombang tsunami, terjadi gempa dan air laut tiba-tiba surut. Melihat surutnya air laut dan tampak ikan-ikan mudah untuk ditangkap, akhirnya menyebabkan masyarakat pergi ke laut untuk menangkapnya, namun tak disangka tak lama kemudian datanglah tsunami dan masyrakat yang sedang menangkapi ikanpun tidak memiliki waktu yang banyak untuk menghindari terjangan tsunami tersebut. Berdasarkan pengalaman tersebut, masyarakat yang selamat dari kejadian itu akhirnya mengisahkan itu lewat lagu pengatar tidur bagi anak2 yang disebut sebagai SMONG, berikut petikan dari lagu tersebut:

Enggel mon sao curito…(Dengarlah sebuah cerita)
Inang maso semonan…(Pada zaman dahulu)
Manoknop sao fano…(Tenggelam satu desa)
Uwi lah da sesewan…(Begitulah mereka ceritakan)
Unen ne alek linon…(Diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali…(Disusul ombak yang besar sekali)
Manoknop sao hampong…(Tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo mawi…(Tiba-tiba saja)
Anga linon ne mali…(Jika gempanya kuat)
Uwek suruik sahuli…(Disusul air yang surut)
Maheya mihawali…(Segeralah cari)
Fano me singa tenggi…(Tempat kalian yang lebih tinggi)
Ede smong kahanne…(Itulah smong namanya)
Turiang da nenekta…(Sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere…(Ingatlah ini betul-betul)
Pesan dan navi da…(Pesan dan nasihatnya).




NB : summary dari berbagai sumber

Jumat, 08 Desember 2017

My heart hurts (so much!)


Hari ini, tanggal 8 desember 2017, salah satu hari yang cukup menyakitkan. Pengumuman CPNS LIPI 2017. Memang nilai skd dan skb cat ku ga sebesar senior-senior ku. Yaa 3 orang yang ikut tes lanjutan untuk formasi peneliti ahli pertama sejarah Indonesia, semuanya dari kampusku,, seniorku angkatan 2011 dan 2012. Aku sendiri angkatan 2013 dan fresh graduate. Harapanku untuk dapat masuk menjadi keluarga lipi adalah di tes terakhir, yaitu wawancara. Aku meyakini betul bahwa secara organisasi, kepanitian, capaian prestasi, akademik kampus, penelitian, presentasi di forum intersnasional, aku lebih unggul dibanding senior-seniorku. Namun itu semua sepertinya tidak dapat menjamin apa-apa jika Allah berkehandak lain. Secara tidak diduga, nilai wawancara seniorku sama denganku, yang mana pupus sudah harapanku menjadi keluarga LIPI tahun ini. Kecewa sangaaaaatttt,,, nangis selama 5 menit,,,sedih bangettttt… my ambition to be a researcher in LIPI failed to achieve,,,,,, huhuhu😭😭😭😭

Rabu, 06 Desember 2017

Spices : The Europe Voyage to The East of New World (The Background of Journey)





peta penjelajahan samudra
sumber : internet :(


Produk apa yang berharga dan banyak diincar di Eropa atau di dunia pada saat ini? Minyak bumi kah? Batu bara kah? Teknologi kah? Ataukah Nuklir? Tentunya produk yang dibutuhkan dan ingin dimiliki sudah sangat beragam dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, menilik pada sejarah dan perkembangan dunia pada saat ini sepertinya tidak dapat dilepaskan dari dilakukannya pelayaran Samudra yang dipelopori oleh bangsa-bangsa Eropa. Untuk apa mereka melakukannya? Tentunya banyak latar belakang yang mendorong atau menariknya, dan satu hal yang pasti adalah karena kebutuhkan mereka akan REMPAH-REMPAH!


Rempah- rempah merupakan primadona dari beberapa barang dagangan yang diperjualbelikan di wilayah Nusantara dan ‘Asia Tenggara’ pada abad ke 16 dan mungkin jauh sebelumnya. Namun satu hal yang pasti produk ini merupakan incaran dari masyarakat Eropa pada saat itu untuk kebutuhan mereka, terutama menghadapi musim dingin. Mengapa? Karena pada musim dingin tumbuhan tak ada yang tumbuh, hewan ternak banyak yang disembelih untuk kebutuhan pangan di musim dingin. Untuk mengawetkan daging-daging ternak tersebut diperlukannlah rempah-rempah yang berasal dari luar Eropa, bahkan beberapa rempah-rempah mampu mengobati penyakit tertentu pada saat itu di Eropa.

Untuk mendapatkan rempah-rempah, masyarakat Eropa tidak langsung mendapatkannya dari wilayah Nusantara atau negara-negara di sekitar Nusantara. Mereka mendapatkan rempah-rempah dengan membeli ke ibukota Byzantium, Konstantinope (sekarang kita mengenalnya dnegan sebutan Instanbul). Ketika Byzantium jatuh ke tangan Islam, perdangangan dengan ERopa mulai ditutup. Hal tersebut tentu saja menjadi pukulan yang cukup berat bagi masyarakat ERopa. Pada saat itu pula mereka makin tidak suka dengan Islam sehingga terjadilah kemudian Perang Salib yang berjilid-jilid.

Orang-orang ERopa pada akhirnya melakukan pencarian rempah-rempah tanpa harus bergantung pada pasar Byzantium. Tidak saja dilatarbelakangi oleh kejatuhan Byzantium, juga didorong oleh semangat Gospel (penyebaran agama Nasrani), kemudian disusul pula dengan adanya persaingan antara Spanyol dan Portugis dalam penguasaan dunia di bawah kendali mereka serta ditambah untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat. Di Eropa pun pada saat itu memang sedang gencar-gencarnya berkembang paham Merkantilisme, di mana sebuah kekayaan diukur berdasarkan banyaknya emas. Emas didapatkan jika perdagangan mereka juga lancar. Oleh karena itu, perjalanan mencari rempah rempah ke tempat asalnya untuk diperdagangnkan di pasar Eropa merupakan hal dilakukan oleh para pedagang Eropa demi meraih keuntungan.

Then, the journey has began,,,,,named Ocean Exploration (Penjelajahan Samudra)

Selasa, 05 Desember 2017

DE IMHEEMSCHE MEUBELNIJVERHEID IN PONDOK PINANG : the beginning

Map of Pondok Pinang in 1970
sumber : ANRI (don't copy please. kalo perlu datang ke anri yaa buat yang aslinya :) )

Pondok pinang adalah salah satu kelurahan yang ada di Jakarta Selatan. Wilayah tersebut berbatasan dengan sungai Sodetan, dan kelurahan Kebayoran Lama Selatan di sebelah utara. Sebelah timur berbatasan dengan kali Grogol, kelurahan Gandaria Selatan dan kelurahan Cilandak Barat/kecamatan Cilandak. Sebelah selatan berbatasan dengan jalan Pasar Jumat/kelurahan Lebak Bulus. Sebelah barat berbatasan dengan kali Pesanggrahan/ kecamatan Pesanggrahan. Pondok pinangpun merupakan tempat dengan permukiman elite terbesar di wilayah Jakarta selatan yang dibangun pada tahun 1970-an, Pondok Indah.

Di wilayah sekitaran Jakarta cukup banyak nama wilayah yang serupa, selain pondok pinang sebut saja terdapat wilayah Pondok Cabe, Pondok Labu, Pondok Cina, Pondok Aren, Pondok Gede, Pondok Rangon, Pondok Bambu. Persamaan dari kesemuanya adalah kata pondok. Jika begitu apa pengertian dari pondok itu sendiri?

Merujuk pada hasil penelitian seorang sejarawan Australia, Lea Jellinek, dengan jurnalnya yang berjudul The Pondok of Jakarta atau bukunya yang berjudul Seperti Roda berputar : perubahan sosial sebuah kampung di Jakarta, pondok adalah sebuah tempat tinggal bagi pedagang-pedagang yang berasal dari wilayah luar Jakarta (migran traders), biasanya mereka masih dari desa/wilayah yang sama. Tempat tersebut hanya seluas 6 meter persegi dengan penghuni bisa mencapai 10 sampai 40 orang sehingga dengan jelas menggambarkan suasana sesak dari tempat tinggal tersebut. Tidak hanya itu, pondok juga merupakan tempat tinggal sementara bagi para pedagang tersebut, karena pondok-pondok itu adalah tempat yang disewakan oleh para tauke[1] untuk para pedagang yang kadang pulang kampung.

Sebelum Lea Jellinek menyebutkan makna pondok tersebut pada tahun 1970-an, 30 tahun sebelumnya, sekitar tahun 1940-an terdapat seorang yang memberikan makna dari pondok itu sendiri, terutama menyangkut Pondok Pinang, yaitu Soemanang. Menurut Soemanang, mendasarkan pada ‘wawancara’ dengan para orang tua di sana, asal usul dari penamaan pondok (Pondok Pinang) adalah dikarenakan para pengumpul pinang yang membawa hasilnya untuk diperdagangkan ke Batavia Pusat (Batavia Centrum) kadang terhambat di tengah perjalanan karena jalan yang digunakan untuk ke Batavia rusak oleh hujan sehingga para pengumpul tersebut akhirnya membentuk sebuah tempat peristirahatan dan penginapan untuk sementara waktu, yang kemudian disebut pondok. Tidak hanya itu, asal usul[2] Pondok Pinang juga awalnya berarti sebuah tempat di mana para pengumpul pinang biasa mengawasi pinangnya.

Sebelum pertengahan tahun 70-an, wilayah Pondok Pinang dapat dikatakan masih bersifat bersifat rural settlement,[3] yaitu wilayahnya masih bersifat desa, dibandingkan Kebayoran Baru yang sudah dikembangkan pemerintah sejak tahun 1948 menjadi wilayah permukiman dengan sarana dan prasarana. Wilayah kelurahan Pondok Pinang merupakan hamparan dataran rendah yang memiliki ketinggian kurang lebih 12 meter di atas permukaan laut, yang terbagi menjadi 2 bagian karena terpisah oleh jalan raya Ciputat, yaitu kampung Pondok Pinang bagian barat dan kampung Pondok Pinang bagian timur.

Keadaan wilayah Pondok Pinang tidak jauh berbeda dengan keadaan Pasar Minggu, yaitu suatu wilayah yang asri dan terdapat kebun buah-buahan,[4] sebagian besar ditanami dengan tanaman nanas dan jeruk, serta  perkebunan karet. Kemudian terdapat juga sawah-sawah yang diusahakan oleh masyarakat, yang tidak saja ditanami dengan padi tapi juga palawija. [5] Rawa-rawa juga dapat di temukan di wilayah Pondok Pinang, malah menurut masyarakat Pondok Pinang mereka juga membuat empang-empang ikan.

Status tanah di Pondok Pinang awalnya terdiri dari beberapa kepemilikan, terutama pada masa kolonial Belanda terdapat tuan-tuan tanah yang menguasai lahan yang besar.[6] Setelah kemerdekaan, status tanahnya mulai mengalami perubahan kepemilikan. Tanah yang awalnya adalah milik tuan tanah dengan hak eigendom verponding menjadi tanah milik negara.[7] Sebelum dikeluarkannya UU No. 1 Tahun 1958,[8] tercatat ada 9 pemegang hak eigendom di Pondok Pinang.



[1] Jellinek menjelaskan bahwa tauke adalah orang yang berperan layaknya “boss” bagi para pedagang, dan juga menjadi pemilik dari tempat tinggal dan alat-alat perdagangan para penghuni pondok. dalam Lea Jellinek, The Pondok Of Jakarta, hlm. 1
[2] Asal-usul mengenai nama Pondok Pinangpun memiliki versi yang berbeda di masyarakat Pondok Pinang. Versi lain masyarakat menyatakan bahwa dahulu nama wilayah Pondok Pinang hanyalah sebatas kata pondok. Namun ketika muncul perampok dari luar wilayah pondok dan membuat masyarakat resah, datanglah perantau dari Demak, Jawa Tengah, yang bernama Raden Pandoman Mas Parnyoto yang kemudian mampu menundukan perampok tersebut dan menang. Penambahan kata pinang yang dimaksud pun merupakan asal kata “menang” atau kemenangan Raden Pandoman terhadap perampok tersebut, dalam Mohamad Soerjani, 1981, Ekologi Budaya Kota Jakarta (Kasus Adaptasi Sumberdaya di Pondok Pinang), Jakarta : Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia, hlm. 13.
[3] Koentjaraningrat, 1973, Village Life South Of Jakarta : Brief report of a Comparative Study on Village Life Around Capital Cities of Southeast Asia, paper discussion untuk The Center for Southeast Asia Studies, hlm. 2.
[4] R. M. Soemanang, Op.Cit., hlm. 5.
Kebayoran dan Pasar Minggu adalah daerah pinggiran kota Jakarta yang diliputi oleh sawah, ladang, dan kebun. Wilayahnya terkenal juga sebagai hutan buah-buahan, dalam Lasmijah Hardi, dkk, “ Jakarta-ku, Jakarta-mu, Jakarta kita, (Jakarta : Pemerintah Daerah Jakarta, 1987), hlm. 100.
[5] R. M. Soemanang, Op. Cit., hlm. 12.
[6] Pada tahun 1940 di wilayah Pondok Pinang tercatat bahwa tanah seluas 43,207 ha adalah eigendomground, dalam R. M Soemanang, De Imheemsche Meubelnijverheid in Pondok Pinang, (Batavia : G. Kolff & Batavia.C, 1940), hlm.11.
[7] Hak eigendom merupakan salah satu hak-hak atas tanah pada masa kolonial yang diatur dalam Burgelijk Wetboek. Hak eigendom adalah hak untuk dengan bebas mempergunakan suatu benda (dalam hal ini tanah)sepenuhnya dan untuk menguasai seluas-luasnya, selama tidak bertentangan dengan undang-undangn atau peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh sebuah instansi yang berhak menetapkannya, serta tidak mengganggu hak-hak orang lain, dalam Hendro S.H., M.H, Kekuatan Pembuktian Tanah Eigendom Veronding Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, (Tesis pada Fakultas Hukum UI), hlm.13.
[8] Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1958 tentang penghapusan tanah-tanah patikelir, tanah eigendom dengan luas lebih dari 10 bau yang menjadi milik seseorang atau suatu badan hukum atau milik bersama dari beberapa orang atau beberapa badan hukum diperlakukan sebagai tanah partikelir, dalam Adrian Sutedi, Implementasi Prinsip Kepentingan Umum dalam Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), hlm. 299.